Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Februari 18, 2012

Penghabisan

Langkah sang waktu pingit
pada rongga rongga pintu berderit
pada dinding dinding bambu beratap sirap
dan pijar pijar lampu lindap
serta angin malam yang perlahan mendekat
meruap jejak dalam gelap
membisikkan baitbait doa
denting keduabelas tepat
Damai. Senyum. Berlalu.
di sekali kita bertemu
di penghabisan waktu.



Sidan,
pada malam yang mendekap jejak waktu
Januari 2012

doa terakhir penghabisan.jpg
Februari 07, 2012

Tentang Apa Yang Kau Sebut Rindu

Pada rasa yang dikandung dalam kalbu
akan seseorang. akan sesuatu
terkadang pula pada waktu
yang memayungi dari derai derai
air mata hujan
yang menaungi dari terik resah dan gelisah
tentang sahabat
tentang keluarga
tentang cinta
tentang kita
dan bunda sempat berkata,
"Jika hatimu dipenuhi kesesakan, pulanglah!
Ibu menunggumu dengan sepiring cinta
dan segelas rindu."



Gianyar,
Januari 2012
Januari 10, 2012

Di Tugu Di Batas Desa

Pada mimpi
yang datang meretas jalan
ada harapan
tersenyum sayu berkalang debu
di tugu di batas desa
ada cinta yang menunggu
waktu untuk berlalu




Beng,
untuk pertemuan di SPBU itu.
Januari 2012
.
Desember 27, 2011

Pamit

Di puncakmu
kakiku menapak pijak
lalu beranjak meninggalkan jejak
pulang, pada satu senja
saat langit barat telah tua renta.

Lelahku merebah raga
dan sekali ini aku menyerah kalah
lepas hingga habis tandas.

Pada lebat pohonan
dan bunga bunga waru
kutitipkan puisi puisiku.

Bukit, di dadamu aku pamit.


Bukit Jati
Nopember 2011
Desember 23, 2011

Perawan Malam

Seorang gadis hadir adalah hawa
melukiskan gurat semu pada wajah rembulan
yang nyalang atas padang ilalang
sunyi dan kesepian

Entah apa denganmu
menaburkan larik larik puisi lirih
di atas luka lukamu yang perih

Hanya senyum kecutmu
lalu purnama diam di atas sana
kian dingin dan gelap
tertutup bayang bayang kelam

Ah! perawan malam
kau titipkan air mata
pada seribu kunang kunang



Panjer
malam ini
2011

Oktober 15, 2011

Jangan Marah Ibu

Langit terang
Bumi goyang
Pohon-pohon terguncang
Dan sang burung kabur terbang
Anjing-anjing ribut menggonggong
Ada apa denganmu ibu
Menumpahkan amarah di siang bolong
Baru sekali ini aku melihatmu marah begitu
Apa karena salahku ibu
Tak becus merawatmu


Perutmu yang buncit aku cubit
Hingga luka dan berdarah dimana-mana
Rambutmu yang lembut aku cabut
Hingga gundul dan mandul


Tapi kumohon jangan marah ibu
Duduklah dan tenangkan dirimu
Karena aku berjanji
Hari ini, esok, dan nanti
Aku akan lebih merawatmu


Tak ingin aku membuatmu marah begit
Apalagi melihatmu meringis menahan tangis
Maafkan aku ibu


Dan tetaplah tuntun aku
Dengan senyum dan nyanyian pengantar tidurmu
Dekaplah aku lelap dalam pelukanmu
Jangan marah ibu
Maafkan aku


BALI, 14 Oktober 2011

23 : 44



(*Kamis, 13 Oktober 2011 gempa 6,8 SR melanda Wilayah Bali dan sekitarnya. Tak sedikit bangunan yang rusak. Begitu juga korban luka-luka. Mungkin ini teguran dari Tuhan karena kita lalai merawat Ibu Bhumi. Mari kita bersama berdoa, semoga Tuhan tetap melindungi kita semua.

"PRAY FOR BALI, PRAY FOR US"
Oktober 08, 2011

Bisu

Malam larut semakin pekat
pintu kabut tertutup rapat
dan angin dingin seiring pengap
bersama hati yang tak mau lelap

Seribu malaikat telah kukirim
sampaikan pesan maaf
kepada dirimu yang memenjarakan kata
diam tak bicara
bisu tak menyapa
hanya mata yang nyalang menyimpan bara

Oh... sungguh tiada sanggup aku
sendiri memaku hati diatas salib dan peti mati
rasa sesal yang tak kunjung terbalas
tertutup kabut amarah dan bara emosi

Kenapa tak datang saja kau
koyak dadaku
cabut jantungku
lempar pada anjing disana
hingga terkapar aku
karena itu lebih baik
daripada kau diam membisu

BALI, 07 Mei 2011
02 : 27
.
 
© Copyright 2009-2011 bliyanbayem All Rights Reserved.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.